3.1 Hukum Tuhan
Ciri-ciri Hukum Alam
3.1.1 Hukum alam adalah hukum Tuhan. Ini menunjukkan apa yang harus kita lakukan dan hindari, dan kebahagiaan sejati datang dari hidup selaras dengannya. Jika kita melawannya, kita menderita.
3.1.2 Karena Tuhan itu kekal dan tidak berubah, maka hukum-Nya juga kekal dan tidak berubah. Hukum manusia berbeda-beda menurut waktu dan tempat karena keterbatasan manusia. Hukum ilahi tidak.
3.1.3 Ia mengatur dunia material dan kehidupan moral.
Ruang Lingkup Hukum Ilahi
3.1.4 Hukum Ilahi mencakup setiap hukum alam, karena segala sesuatu berasal dari Tuhan.
3.1.5 Beberapa hukum mengatur materi, pergerakan, dan dunia fisik. Yang lain mengatur jiwa, perilaku manusia, dan kewajiban kita terhadap Tuhan dan orang lain. Ini mencakup tatanan fisik dan moral.
Kemajuan Manusia dalam Pemahaman Hukum
3.1.6 Manusia tidak memahami hukum Tuhan sekaligus. Mereka mempelajarinya secara bertahap.
3.1.7 Hal ini berlaku dalam sains dan moralitas. Seiring kemajuan manusia, mereka semakin memahami hukum alam dan hukum kehidupan yang benar.
Hukum Ilahi dan Dunia Berbeda
3.1.8 Hukum Ilahi mempunyai satu sumber di mana-mana, namun penerapannya sesuai dengan kondisi dunia masing-masing.
3.1.9 Dunia dan penghuninya berbeda dalam perkembangannya, sehingga kondisi luarnya pun tidak sama. Namun tatanan ilahi yang sama mengatur semuanya. Sumbernya tetap bijaksana, adil, dan mengarah pada kebaikan.
Asal Usul dan Pengetahuan tentang Hukum Alam
3.1.10 Tuhan telah memberi setiap orang sarana untuk mengetahui hukum-Nya. Namun masyarakat tidak memahaminya dengan baik. Mereka yang dengan tulus mencari apa yang benar akan memahaminya dengan lebih jelas, dan pada waktunya semua orang akan mengetahuinya, karena pengetahuan itu diperlukan untuk kemajuan.
3.1.11 Ini adalah salah satu alasan terjadinya inkarnasi berulang-ulang. Dalam banyak kehidupan, roh bertumbuh dalam kecerdasan dan kesadaran moral, sehingga mempelajari hukum sedikit demi sedikit. Sebelum mengambil jenazah, jiwa melihat hukum Tuhan sesuai derajat kemurniannya. Dalam kehidupan di bumi, hukum tersebut tetap memiliki makna batin, meskipun materi sering kali mengaburkannya.
3.1.12 Hukum Tuhan tertulis di dalam hati nurani. Hal ini ada di dalam diri kita, meskipun suara hati nurani sering kali dilemahkan, diabaikan, atau diputarbalikkan.
Kebutuhan akan Wahyu
3.1.13 Karena masyarakat tidak selalu mendengarkan hati nuraninya, mereka perlu diingatkan akan hukum. Oleh karena itu, di zaman yang berbeda, roh-roh tertentu telah menerima misi untuk memperkenalkannya.
3.1.14 Mereka tidak menciptakan kebenaran. Mereka memulihkannya, menjelaskannya, dan mengajak masyarakat kembali ke pengadilan ketika hal itu telah dilupakan. Namun tidak semua orang yang mengklaim misi tersebut benar-benar memilikinya. Kebanggaan dan kesalahan yang salah bisa menyesatkan. Seorang utusan sejati dikenal melalui nilai moralnya dan juga melalui kata-katanya.
Hukum Alam Sebelum Yesus
3.1.15 Hukum alam telah dikenal sebelum Yesus. Kitab ini tertulis di dalam ciptaan dan di dalam hati manusia, sehingga orang-orang yang bijaksana di segala zaman dapat memahami bagian-bagiannya.
3.1.16 Itulah sebabnya kebenaran moral yang besar muncul di antara banyak orang, meski sering kali bercampur dengan takhayul dan kesalahan. Ajaran-ajaran sebelumnya membantu mempersiapkan jalan menuju terang yang lebih jelas.
Mengapa Pengajaran Lebih Lanjut Diberikan
3.1.17 Jika Yesus mengajarkan hukum Tuhan, pengajaran lebih lanjut masih berguna karena manusia tidak memahami semuanya sekaligus. Hukum itu sendiri tidak berubah, namun pemahaman manusia berkembang.
3.1.18 Jadi kebenaran yang sama terkadang harus dijelaskan dengan lebih jelas dan lengkap. Hal ini membantu menyadarkan mereka yang masih mengabaikan hukum dan mencegah masyarakat bersembunyi di balik ketidaktahuan. Pengajaran yang benar menarik akal sehat; ia tidak menuntut ketundukan buta. Hukum Tuhan didasarkan pada kasih dan amal.
Mengapa Kebenaran Muncul Secara Bertahap
3.1.19 Kebenaran diberikan sesuai waktu dan kesiapan umat manusia. Orang hanya menerima apa yang mampu mereka tanggung.
3.1.20 Itulah sebabnya ajaran kuno sering kali datang melalui simbol, gambaran, dan gagasan parsial. Agama dan filsafat lama mungkin mengandung kebenaran nyata, meski bercampur dengan ketidakpastian dan kesalahan. Namun, hal-hal tersebut tidak boleh diabaikan, karena sering kali hal-hal tersebut menyimpan benih-benih pertama dari kebenaran-kebenaran besar.
Hati Nurani, Kemajuan, dan Kebangkitan Moral
3.1.21 Hukum alam ada di dalam diri kita dan diajarkan kepada kita seiring berjalannya waktu. Ia berbicara dalam hati nurani, tercermin dalam alam, dan diingat oleh guru-guru yang tercerahkan.
3.1.22 Namun masyarakat tidak memahaminya sekaligus. Pengetahuan tumbuh seiring dengan kemajuan moral dan pengalaman. Beberapa orang mengenali hukum lebih cepat karena mereka mencarinya dengan tulus. Yang lain menolaknya untuk sementara waktu. Tapi tidak ada seorang pun yang selamanya tertutup darinya. Hukumnya tetap sama: hukum cinta, amal, dan gerakan menuju kebaikan.
Baik dan Jahat
3.1.23 Moralitas adalah aturan perilaku yang benar: membedakan yang baik dari yang jahat.
3.1.24 Dasarnya adalah ketaatan pada hukum Tuhan. Seseorang bertindak benar ketika bekerja demi kebaikan semua orang.
Baik dan Jahat
3.1.25 Kebaikan sejalan dengan hukum Tuhan, dan kejahatan bertentangan dengan hukum Tuhan.
3.1.26 Manusia mempunyai kemampuan untuk memahami hal ini jika mereka dengan tulus mencari apa yang benar dan berpaling kepada Tuhan. Kecerdasan diberikan untuk tujuan ini, meskipun kepentingan pribadi dan nafsu dapat mengaburkan penilaian. Aturan pastinya tetap ada: lakukan kepada orang lain apa yang Anda ingin mereka lakukan terhadap Anda.
Hukum Alam dan Ukuran Kebutuhan
3.1.27 Hukum alam juga mengatur bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri. Hal ini menentukan batas kebutuhan, dan bila batas tersebut terlampaui, maka penderitaan pun akan terjadi.
3.1.28 Banyak penderitaan manusia disebabkan oleh pengabaian peringatan batin yang mengatakan, cukup. Banyak masalah yang ditimpakan pada alam akan dapat dihindari jika manusia mendengarkan suara itu.
Mengapa Kejahatan Moral Ada
3.1.29 Kejahatan moral tidak ada karena manusia diciptakan tidak mampu berbuat baik. Roh-roh diciptakan sederhana dan bodoh, dan mereka tumbuh melalui kebebasan dan pengalaman.
3.1.30 Setiap orang harus memilih jalan. Jika jalan yang diambil salah, perjalanan menjadi lebih panjang dan menyakitkan. Tanpa perjuangan, tidak akan ada pembelajaran sejati dalam usaha, perlawanan, dan kemenangan.
Satu Hukum, Beda Kondisi
3.1.31 Kehidupan manusia berbeda-beda menurut tempat, waktu, kedudukan sosial, dan keadaan. Hal ini menciptakan kondisi dan kebutuhan yang berbeda.
3.1.32 Namun hukum alam pada prinsipnya tetap satu dan berlaku untuk semua. Apa yang diperlukan mungkin berbeda-beda, namun hukum moral yang mengatur penggunaan kebutuhan tersebut tidak berubah. Kita harus membedakan kebutuhan nyata dari kebutuhan palsu atau kebutuhan konvensional.
Kemutlakan Baik dan Jahat serta Relativitas Tanggung Jawab
3.1.33 Kebaikan selalu baik, dan kejahatan selalu jahat, apapun pangkat, budaya, atau kondisi seseorang.
3.1.34 Perubahan apa pun adalah tanggung jawab. Semakin jelas seseorang mengetahui apa yang harus dilakukan, semakin besar rasa bersalahnya jika melakukan hal sebaliknya. Keadaan memang bisa mengurangi sikap menyalahkan, namun tidak mengubah benar menjadi salah. Ketika jiwa tumbuh dan memahami lebih banyak, akuntabilitas juga tumbuh.
Tanggung Jawab Bersama atas Kejahatan
3.1.35 Tanggung jawab tidak hanya dimiliki oleh orang yang secara langsung melakukan kesalahan.
3.1.36 Barangsiapa menyesatkan orang lain, maka ia ikut ambil bagian di dalamnya. Hal yang sama berlaku bagi mereka yang mengambil keuntungan dari kejahatan tanpa melakukannya sendiri. Menerima buahnya berarti mengambil bagian di dalamnya.
Keinginan, Perlawanan, dan Kelalaian
3.1.37 Keinginan untuk melakukan kejahatan tidak dinilai dengan cara yang sama dalam setiap kasus.
3.1.38 Jika seseorang benar-benar menolak keinginan yang salah, perjuangan itu mempunyai nilai moral. Tetapi jika keinginan itu tetap ada hanya karena tidak ada kesempatan untuk bertindak, maka rasa bersalah tetap ada, karena kemauan sudah terlanjur disepakati.
3.1.39 Menghindari perbuatan salah saja tidak cukup. Setiap orang harus berbuat kebaikan semaksimal mungkin. Umat manusia tidak hanya bertanggung jawab atas kejahatan yang mereka lakukan, namun juga atas kebaikan yang tidak mereka lakukan.
Keburukan, Godaan, dan Kekuatan Moral
3.1.40 Lingkungan yang buruk memang mempunyai pengaruh. Banyak orang yang tertarik pada kejahatan dan kejahatan karena suasana di sekitar mereka.
3.1.41 Meski begitu, pengaruh tersebut tidak pernah bisa ditolak. Godaan mungkin kuat, namun kebebasan tetap ada. Kondisi yang sulit dapat menjadi sebuah cobaan di mana perlawanan mendapatkan manfaatnya, dan beberapa roh-roh bahkan mungkin telah memilih ujian seperti itu sebelum kehidupan duniawi.
Derajat Kebaikan dalam Berbuat Baik
3.1.42 Tidak setiap perbuatan baik mempunyai nilai moral yang sama.
3.1.43 Manfaatnya sangat bergantung pada kesulitan, pengorbanan, dan penyangkalan diri yang terlibat. Ketika berbuat baik tidak memerlukan biaya apa pun, manfaatnya lebih kecil; bila hal itu memerlukan keberanian atau kerugian pribadi, maka hal itu lebih besar.
3.1.44 Yang terpenting bukanlah besar kecilnya pemberian, namun ketulusan, usaha, dan cinta di baliknya. Tuhan menimbang hati.
Pembagian Hukum Alam
3.1.45 Hukum alam meliputi seluruh kehidupan.
3.1.46 Aturan mengasihi sesama mencakup kewajiban kita terhadap orang lain, namun ada gunanya jika kita memisahkan tugas-tugas ini menjadi beberapa bagian untuk pemahaman yang lebih jelas.
3.1.47 Hukum alam dapat dibagi menjadi sepuluh bagian:
- Memuja
- Tenaga kerja
- Reproduksi
- Kelestarian
- Pengrusakan
- Masyarakat
- Kemajuan
- Persamaan
- Kebebasan
- Keadilan, Cinta, dan Amal
3.1.48 Pembagian ini berguna, namun tidak kaku. Hukum itu satu, walaupun disusun berbeda-beda.
3.1.49 Dari semua bagian tersebut, hukum keadilan, cinta kasih, dan amal kasih adalah yang paling penting, karena ia melengkapi bagian-bagian lainnya.