Skip to main content

3.2 Ibadah dan Hubungan dengan Tuhan

Catatan terjemahan
Bab ini diterjemahkan dengan AI dari edisi sederhana dan mungkin mengandung kesalahan. Mohon laporkan jika ada masalah terjemahan.

Tujuan Ibadah

3.2.1 Ibadah adalah terangkatnya jiwa menuju Tuhan. Ini merupakan gerakan batin menuju Sang Pencipta, bukan sekadar upacara lahiriah.

3.2.2 Kebutuhan ini merupakan hal yang wajar dalam diri manusia. Hal ini tidak hanya berasal dari ajaran atau adat istiadat saja, namun hal ini mempengaruhi bentuk-bentuknya. Merasakan kelemahan dan ketergantungannya, orang beralih ke kekuatan yang lebih tinggi.

3.2.3 Itulah sebabnya setiap bangsa mempunyai suatu bentuk ibadah. Meskipun bentuknya berbeda-beda, selalu ada perasaan tentang Yang Mahatinggi.

3.2.4 Maka ibadah adalah bagian dari hukum alam. Berasal dari perasaan batin jiwa manusia yang secara alamiah muncul menuju Tuhan.

Bentuk Ibadah yang Lahiriah

3.2.5 Ibadah dimulai dari jiwa, bukan dalam bentuk lahiriahnya.

3.2.6 Ibadah yang sejati datangnya dari hati. Nilainya terletak pada keikhlasan, mengingat Tuhan, dan kehidupan yang rendah hati, adil, dan beramal. Tindakan lahiriah dapat berguna jika tindakan tersebut tulus dan mengangkat pikiran, memperdalam pengabdian, atau memberikan teladan yang baik. Tapi itu hanya berarti jika mereka mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan seseorang.

3.2.7 Ketika ibadah hanya sekedar penampilan, maka ia kehilangan nilainya. Jika bentuk-bentuk keagamaan digunakan karena kesombongan atau untuk terlihat saleh padahal hidup sebaliknya, maka hal itu merugikan. Tuhan tidak menyukai satu bentuk lahiriah demi kepentingannya sendiri. Yang diridhoi adalah ibadah yang ikhlas disertai amal shaleh dan menjauhi kemunkaran. Upacara saja tidak membuat siapa pun menjadi lebih baik.

3.2.8 Semua manusia adalah anak-anak dari Tuhan yang sama dan dipanggil berdasarkan hukum ilahi yang sama, apa pun bentuk ibadah mereka. Perbedaan bahasa, ritus, atau adat istiadat tidak membuat seseorang lebih hebat di hadapan Allah dibandingkan orang lain.

3.2.9 Kemunafikan agama sangatlah serius. Pengabdian lahiriah tanpa kehidupan yang sesuai mengkhianati apa yang dianggap sebagai kehormatan. Kesombongan, iri hati, iri hati, kekerasan hati, tidak mau memaafkan, dan ambisi menunjukkan bahwa ibadah belum benar-benar masuk ke dalam hati. Ketika seseorang mengetahui lebih baik dan masih bertindak melawan cahaya itu, kesalahannya lebih besar dibandingkan jika hal itu berasal dari ketidaktahuan.

3.2.10 Kadang-kadang seseorang menganut suatu agama tanpa keyakinan batin hanya untuk menghindari menyinggung perasaan orang lain dan untuk menghormati keyakinan mereka. Maka nilai akhlaknya tergantung niatnya. Partisipasi penuh hormat dalam bentuk amal tidaklah salah, namun agama yang digunakan untuk reputasi, pengaruh, atau ambisi menjadi sia-sia.

Ibadah Kelompok dan Ibadah Individu

3.2.11 Ibadah dapat dilakukan sendiri atau bersama orang lain, dan keduanya memiliki nilai.

3.2.12 Ibadah berkelompok mempunyai kekuatan tersendiri karena orang-orang yang bersatu dalam pikiran dan perasaan menciptakan keharmonisan yang lebih kuat. Ketika banyak orang berkumpul dengan niat tulus, pengabdian dapat diperdalam dan dorongan mulia diperkuat.

3.2.13 Namun ibadah individu juga tidak kalah pentingnya. Seseorang dapat berbalik dengan tulus kepada Tuhan dalam kesendirian. Yang penting selalu sama: keikhlasan, amal, dan perubahan moral yang nyata. Apakah ibadah itu bersifat umum atau pribadi, nilainya bergantung pada kebenaran hati dan kebaikan kehidupan setelahnya.

Kehidupan Kontemplatif

3.2.14 Hidup hanya dalam kontemplasi tidak mempunyai nilai khusus hanya karena menghindari kejahatan dan berbalik kepada Tuhan.

3.2.15 Tidaklah cukup hanya dengan menahan diri dari berbuat salah; kita juga harus melakukan kebaikan yang bisa kita lakukan. Doa, meditasi, dan kontemplasi adalah baik jika membantu kita menjadi lebih baik dan lebih setia dalam tugas-tugas kehidupan, namun hal-hal tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan tugas-tugas tersebut.

3.2.16 Seseorang yang menarik diri ke dalam pengabdian batin tanpa berguna bagi orang lain, hidup hanya untuk dirinya sendiri. Dalam penghakiman Allah, bukan hanya kejahatan yang kita lakukan yang penting, namun juga kebaikan yang kita lalai lakukan.

Doa

3.2.17 Doa menyenangkan Tuhan jika datangnya dari hati. Nilainya bukan terletak pada kata-kata yang halus atau rumusan yang panjang, melainkan pada keikhlasan, keimanan, dan kerendahan hati. Bahkan doa orang yang tidak sempurna pun bisa didengar bila membawa pertobatan sejati.

Sifat Doa

3.2.18 Doa adalah suatu tindakan ibadah. Artinya mengarahkan pikiran kita kepada Tuhan, mendekatkan diri kepada-Nya, dan bersekutu dengan-Nya.

3.2.19 Doa mencakup pujian, permohonan, dan ucapan syukur. Ini bukan sekedar kata-kata yang diucapkan, namun merupakan tindakan pikiran dan kemauan batin. Nilainya diukur dari ketulusannya, bukan panjangnya.

Doa dan Transformasi Moral

3.2.20 Doa membantu kita menjadi lebih baik jika dibarengi dengan upaya nyata.

3.2.21 Mereka yang berdoa dengan penuh kepercayaan menerima kekuatan untuk melawan kejahatan, dan roh-roh yang baik datang untuk mendukung mereka. Namun doa saja tidak mengubah hati. Banyak orang berdoa namun tetap merasa sombong, iri, atau kasar. Doa akan membuahkan hasil hanya bila disertai dengan pemeriksaan diri dan reformasi sejati.

Doa dan Pengampunan

3.2.22 Doa saja tidak menghapus perbuatan salah.

3.2.23 Meminta maaf hanya mempunyai nilai ketika melakukan perubahan. Perbuatan baik adalah doa terbaik, dan pertobatan harus ditunjukkan dalam hidup, tidak hanya dengan kata-kata.

Doa untuk Orang Lain

3.2.24 Doa untuk orang lain dapat mendatangkan pertolongan yang nyata.

3.2.25 Jika dipersembahkan dengan cinta, maka akan menarik roh-roh baik yang mendukung niat tersebut. Doa yang tulus dapat memberikan kekuatan, pikiran yang lebih tenang, keberanian, atau dukungan moral kepada orang lain. Di sini pun, yang terpenting adalah hati.

Doa, Cobaan, dan Penderitaan

3.2.26 Doa tidak menghilangkan setiap cobaan atau membatalkan hukum yang ditetapkan Tuhan. Beberapa kesulitan harus ditanggung.

3.2.27 Namun, doa tidak pernah sia-sia. Ini memberi kekuatan, kesabaran, dan kepasrahan, dan itu mendekatkan roh-roh yang baik. Melalui doa, penderitaan mungkin tidak hilang, namun dapat ditanggung dengan lebih banyak kedamaian dan keberanian.

Doa Untuk Orang Mati dan Menderita Roh-roh

3.2.28 Doa untuk orang yang meninggal dan menderita roh-roh bermakna. Hal ini tidak membatalkan keadilan ilahi, namun dapat mendatangkan penghiburan dan kelegaan.

3.2.29 roh yang menderita terharu karena dikenang dengan cinta. Ingatan ini dapat membangkitkan harapan, pertobatan, dan hasrat untuk menjadi lebih baik. Dengan cara ini, penderitaan dapat dipersingkat, bukan dengan melarikan diri dari keadilan, namun dengan membantu roh untuk bergerak maju.

Mengapa Doa untuk Orang Mati Merupakan Tindakan Cinta

3.2.30 Cinta tidak berakhir dengan kematian. Kewajiban untuk saling mencintai termasuk mereka yang telah meninggalkan kehidupan duniawi.

3.2.31 Doa untuk orang yang meninggal adalah amal. Menghibur mereka, menjaga ikatan kasih sayang tetap hidup, dan dapat menggugah rasa syukur, cinta, dan pemikiran yang lebih baik dalam diri roh yang dikenang.

Doa untuk Roh-roh

3.2.32 Doa boleh ditujukan kepada roh-roh yang baik, karena mereka adalah utusan Tuhan dan agen kehendak-Nya.

3.2.33 Namun mereka tidak mempunyai kekuatan selain dari Tuhan. Jadi doa-doa seperti itu hanya bernilai jika sesuai dengan kehendak Tuhan. Permintaan-permintaan tersebut ditujukan kepada hamba-hamba Allah, bukan permohonan kepada negara-negara yang independen.

Politeisme

3.2.34 Politeisme termasuk dalam tahap awal pemikiran keagamaan manusia.

3.2.35 Gagasan tentang satu Tuhan bukanlah gagasan pertama umat manusia. Manusia mula-mula memahami ketuhanan secara material, membayangkan makhluk yang lebih tinggi dengan bentuk yang terlihat dan mirip manusia. Karena alam menunjukkan banyak kekuatan dan pengaruh, mereka dituntun untuk percaya pada banyak dewa.

3.2.36 Ketika refleksi berkembang, orang-orang secara bertahap melihat bahwa begitu banyak kekuatan yang berbeda tidak dapat memerintah dunia secara mandiri, dan pemikiran pun berkembang menuju gagasan tentang satu Tuhan.

Manifestasi Roh dan Banyak Dewa

3.2.37 Manifestasi Roh juga membantu memunculkan kepercayaan pada banyak dewa.

3.2.38 Di setiap zaman, manusia menyadari adanya makhluk tak kasat mata yang bertindak di luar batas kemampuan manusia normal. Karena makhluk-makhluk ini tampak lebih dari sekadar manusia, mereka disebut dewa. Dengan cara yang sama, manusia luar biasa terkadang dihormati setelah kematian sebagai dewa.

3.2.39 Di kalangan masyarakat zaman dahulu, kata tuhan sering kali digunakan secara lebih luas dibandingkan saat ini. Apa yang sekarang kita sebut roh-roh kemudian sering disebut dewa. Kesalahannya tidak selalu dalam mengamati makhluk nyata, tetapi dalam salah mengira mereka sebagai dewa dan memujanya.

3.2.40 Roh-roh bukanlah dewa dalam arti absolut. Mereka adalah makhluk ciptaan, seperti kita, tetapi tanpa tubuh material dan pada tingkat kemajuan yang berbeda.

Dari Banyak Tuhan menjadi Satu Tuhan

3.2.41 Peralihan dari politeisme ke kepercayaan pada satu Tuhan tidak berarti menyangkal fakta-fakta yang turut melahirkan kepercayaan lama. Untuk itu diperlukan pemahaman yang benar.

3.2.42 Makhluk spiritual tidak lenyap, namun maknanya berubah. Ibadah diarahkan kepada Dzat yang memilikinya, sedangkan roh-roh diakui sebagai makhluk ciptaan di bawah kekuasaan ilahi.

3.2.43 Jadi kepercayaan lama terhadap banyak dewa dapat dilihat sebagai pembacaan yang tidak sempurna atas sebuah kebenaran sejati: roh-roh memang bertindak terhadap dunia. Kesalahannya adalah memperlakukan makhluk ciptaan itu sebagai kekuatan ilahi. Hanya ada satu Tuhan; roh-roh, betapapun tingginya, tetap tunduk pada perintah itu.

Pengorbanan

3.2.44 Pengorbanan datang dari gagasan yang salah tentang Tuhan. Orang mengira nilai suatu persembahan bergantung pada nilai benda yang dimusnahkan. Karena makhluk hidup tampaknya lebih berharga daripada buah-buahan di bumi, mereka membayangkan bahwa darah akan lebih menyenangkan Allah. Dari kesalahan ini muncullah pengorbanan hewan dan, kemudian, pengorbanan manusia.

3.2.45 Namun Tuhan tidak pernah menuntut hal-hal seperti itu. Kehancuran kehidupan tidak dapat menghormati sumber kehidupan.

Pengorbanan dan Niat Manusia

3.2.46 Pengorbanan manusia selalu salah.

3.2.47 Namun, pada masa ketidaktahuan, banyak yang percaya bahwa mereka sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan Tuhan. Dalam menilainya harus diperhatikan niat dan perbuatannya. Kejahatan mungkin bisa dikurangi dengan ketidaktahuan, tapi tidak menjadi baik. Seiring bertambahnya pemahaman orang, keyakinan kejam ini harus dihilangkan.

3.2.48 Dan sering kali, bahkan di antara mereka yang mempraktikkannya, sudah ada perasaan batin bahwa hal itu jahat.

Perang Suci

3.2.49 Pemikiran salah yang sama juga muncul dalam perang suci. Ketika orang-orang percaya bahwa mereka menghormati Tuhan dengan membunuh orang-orang yang berbeda agama, mereka mengubah agama menjadi kekerasan.

3.2.50 Tuhan tidak meminta satu orang untuk menghancurkan orang lain demi Dia. Semua orang bergerak menuju Tuhan yang sama, meskipun mereka mungkin mengenal Dia dengan cara yang berbeda. Kebenaran tidak disebarkan dengan kekerasan. Itu disebarkan melalui kesabaran, kelembutan, dan cinta.

Nilai Sebenarnya dari Penawaran

3.2.51 Tidak ada persembahan lahiriah yang bernilai jika hati kosong.

3.2.52 Hasil bumi lebih berharga dari pada pertumpahan darah, tapi niat tulus lebih berharga dari pemberian materi apapun. Tuhan tidak terlalu memperhatikan apa yang ditawarkan, melainkan melihat perasaan di baliknya.

Amal sebagai Persembahan Terbaik

3.2.53 Persembahan terbaik kepada Tuhan adalah sedekah.

3.2.54 Apa yang disisihkan untuk ibadah hendaknya bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Menolong yang miskin, menghibur yang menderita, dan melakukan belas kasihan jauh lebih menyenangkan Tuhan daripada menghancurkan barang-barang dalam upacara. Kebaikan, kasih sayang, dan hati yang tulus adalah persembahan yang diutamakan-Nya.