Skip to main content

4.1 Suka dan Duka dalam Kehidupan Duniawi

Catatan terjemahan
Bab ini diterjemahkan dengan AI dari edisi sederhana dan mungkin mengandung kesalahan. Mohon laporkan jika ada masalah terjemahan.

Kebahagiaan dan Ketidakbahagiaan Relatif

4.1.1 Kebahagiaan sempurna tidak ditemukan di bumi. Kehidupan di dalam tubuh adalah masa percobaan dan perbaikan, sehingga kepuasan penuh tidak dapat diharapkan.

4.1.2 Namun, banyak orang dapat mengurangi penderitaan mereka. Sebagian besar kesengsaraan manusia disebabkan oleh sikap berlebihan, kesombongan, keegoisan, dan hidup yang melanggar hukum moral. Mereka yang memahami bahwa kehidupan di dunia ini singkat, dan bahwa kehidupan di masa depan menanti, akan menanggung kesulitan-kesulitan saat ini dengan lebih tenang.

Ukuran Umum Kebahagiaan

4.1.3 Kebahagiaan di muka bumi memang tidak sama bagi setiap orang, namun tetap ada ukuran yang sama.

4.1.4 Bagi tubuh, kebahagiaan adalah memiliki apa yang diperlukan. Bagi jiwa, itu adalah hati nurani yang baik dan kepercayaan di masa depan. Banyak hal yang disebut kebutuhan sebenarnya diciptakan oleh kesombongan, kesombongan, ambisi, atau kebiasaan. Banyak penderitaan timbul karena menginginkan apa yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

4.1.5 Orang bijaksana tidak akan terus-terusan memandang pada orang yang kelihatannya mempunyai lebih. Sebaliknya, mereka menyadari betapa banyak penderitaan yang ada di bawah mereka, dan mereka mengangkat pikiran mereka ke atas dunia ini.

Kemalangan Yang Tidak Bergantung Pada Kita

4.1.6 Tidak semua penderitaan disebabkan oleh kesalahan pribadi. Orang baik dan jujur ​​juga mengalami kesulitan.

4.1.7 Cobaan ini tidak selalu bisa dicegah, namun bisa dijalani dengan kesabaran. Dalam penderitaan yang tidak dapat dihindari, hati nurani yang bersih tetap menjadi penghiburan yang mendalam. Kekayaan bukanlah tanda pasti akan kebahagiaan atau nikmat ilahi. Kekayaan sering kali merupakan ujian yang berbahaya karena kekayaan memicu keegoisan dan keterikatan pada hal-hal duniawi.

Kebutuhan Buatan dan Beban Peradaban

4.1.8 Peradaban membawa kemajuan, namun juga menciptakan banyak keinginan baru. Orang-orang akan salah mengira keinginan ini sebagai kebutuhan, dan ini menjadi penyebab utama ketidakbahagiaan.

4.1.9 Semakin banyak kebutuhan yang diciptakan manusia, semakin besar pula penderitaan mereka jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Mereka yang tahu bagaimana membatasi keinginannya akan terhindar dari banyak masalah. Dalam hal ini, yang terkaya sering kali adalah mereka yang paling sedikit membutuhkan.

Kebutuhan, Perampasan, dan Tanggung Jawab

4.1.10 Kemewahan tidak diperlukan untuk kebahagiaan, tetapi kebutuhan hidup yang sebenarnya diperlukan. Siapa pun yang kekurangan apa yang dibutuhkan untuk hidup dan menjaga kesehatannya sungguh disayangkan.

4.1.11 Terkadang hal ini disebabkan oleh kesalahan pribadi. Di lain waktu, hal ini disebabkan oleh ketidakadilan orang lain, yang kemudian bertanggung jawab. Banyak kekecewaan juga datang karena menempuh jalan yang tidak sesuai dengan kemampuan seseorang. Kebanggaan, ambisi, dan tekanan keluarga seringkali mendorong orang ke dalam kehidupan yang tidak sesuai dengan dirinya. Pendidikan moral yang baik akan mencegah sebagian besar kesengsaraan ini.

Kerja, Kebanggaan, dan Penolakan Kerja Jujur

4.1.12 Tidak seorang pun boleh memilih kematian daripada bekerja.

4.1.13 Dalam kebanyakan kasus, seseorang dapat menemukan cara hidup yang jujur ​​jika kesombongan tidak menghalanginya. Tidak ada pekerjaan bermanfaat yang memalukan. Yang merendahkan seseorang bukanlah kerja keras, melainkan kemalasan, keegoisan, atau kesombongan.

4.1.14 Namun ada kalanya penyakit atau keadaan membuat swadaya tidak mungkin dilakukan. Dalam masyarakat yang benar-benar bermoral, tidak ada seorang pun yang akan mati kelaparan.

Mengapa Penderitaan Tampaknya Lebih Biasa Daripada Kebahagiaan

4.1.15 Penderitaan nampaknya lebih umum daripada kebahagiaan karena tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar bahagia. Bahkan mereka yang tampak beruntung pun sering kali menyembunyikan masalah yang menyakitkan.

4.1.16 Bumi masih menjadi tempat penebusan, sehingga penderitaan masih tersebar luas. Kemenangan orang jahat hanya bersifat sementara. Kejahatan sering kali tampak lebih kuat karena orang jahat bertindak berani, sedangkan orang baik sering kali ragu-ragu.

Penderitaan Mental dan Siksaan Jiwa

4.1.17 Manusia bahkan lebih menjadi penyebab penderitaan mentalnya dibandingkan penderitaan fisiknya.

4.1.18 Banyak penderitaan jiwa datang dari nafsu: harga diri yang terluka, ambisi yang kecewa, keserakahan, iri hati, iri hati, dan kepahitan. Siksaan batin ini menghancurkan kedamaian lebih dalam daripada banyak kerugian lahiriah. Iri hati dan iri hati sangatlah kejam, karena menjadi hukuman yang ditanggung manusia dalam dirinya.

Bangkit Di Atas Pandangan Duniawi

4.1.19 Banyak ketidakbahagiaan timbul karena terlalu mementingkan hal-hal duniawi. Kesombongan, keserakahan, dan ambisi membuat setiap kerugian terasa lebih besar dari yang sebenarnya.

4.1.20 Ketika manusia hidup hanya untuk dunia ini, perubahan nasib terasa tak tertahankan. Namun ketika jiwa bangkit menuju takdirnya yang sebenarnya, masalah-masalah duniawi menyusut ke ukuran sebenarnya. Mereka yang mencari kebahagiaan dalam kesombongan atau kesenangan akan menjadi sengsara ketika hal ini gagal. Mereka yang moderat dan sederhana sering kali tetap merasa damai dalam kondisi yang dianggap tidak bahagia oleh orang lain.

4.1.21 Penghiburan sejati datang dari visi moral dan spiritual. Harapan di masa depan, kepercayaan pada takdir jiwa, hati nurani yang bersih, kerja keras yang rendah hati, dan keberanian dalam pencobaan membuat kebahagiaan relatif mungkin terjadi di bumi.

Hilangnya Orang Tercinta

4.1.22 Kehilangan orang-orang yang kita sayangi merupakan salah satu kesedihan terdalam dalam hidup. Tidak ada yang lolos darinya. Bagi sebagian orang, ini adalah sebuah cobaan; bagi yang lain, sebuah penebusan. Namun perpisahan tersebut belum final. Mereka yang meninggal tidak tersesat, dan kita akan bertemu lagi.

Komunikasi dengan Mereka yang Telah Meninggal

4.1.23 Sungguh melegakan mengetahui bahwa orang mati masih ada di dekat kita. Mereka mungkin mendengarkan kita, mendatangi kita, dan menjawab panggilan kita jika panggilan itu dilakukan dengan tulus.

4.1.24 Mereka menyimpan kasih sayang terhadap orang-orang yang mereka sayangi di muka bumi. Mereka dapat memberi nasihat, memperlihatkan kepedulian, dan bersukacita karena diingat. Sungguh melegakan mengetahui bahwa mereka masih ada dan reuni masih mungkin terjadi.

Rasa Hormat dan Kesopanan

4.1.25 Beberapa orang berpendapat bahwa berkomunikasi dengan orang mati adalah hal yang salah atau tidak sopan. Hal ini tidak akan terjadi jika dilakukan dengan rasa hormat, keseriusan, dan perasaan yang pantas.

4.1.26 Yang salah adalah menganggap kontak semacam itu sebagai hal yang enteng atau sebagai hiburan. Kenangan yang penuh kasih sayang, dipadukan dengan rasa hormat, adalah wajar dan berharga.

Duka Berlebihan dan Dampaknya

4.1.27 Roh-roh tersentuh oleh kenangan penuh kasih, namun kesedihan yang berlebihan menyusahkan mereka. Kesedihan yang pahit dan tanpa harapan menunjukkan terlalu banyak keterikatan pada kehidupan duniawi dan terlalu sedikit kepercayaan pada masa depan.

4.1.28 Jika orang yang kita duka lebih bahagia setelah kematian, cinta sejati seharusnya bergembira atas kedamaian mereka. Duka memang wajar, namun jangan menjadi pemberontakan melawan kehendak Tuhan atau putus asa karena perpisahan yang hanya bersifat sementara.

Tahanan Dibebaskan

4.1.29 Bayangkan dua orang sahabat terkurung di penjara, keduanya menunggu pembebasan. Jika seseorang dibebaskan terlebih dahulu, persahabatan sejati tidak ingin dia tetap menjadi tahanan hanya untuk menghindari perpisahan.

4.1.30 Begitu pula dengan kehidupan duniawi. Siapa yang mati duluan, ibarat tawanan yang dibebaskan. Orang yang masih tinggal harus menunggu dengan sabar saat pembebasannya sendiri.

Sahabat yang Berangkat Menuju Negeri yang Lebih Baik

4.1.31 Bayangkanlah seorang teman yang pergi ke negeri yang lebih baik, dimana kehidupannya lebih mudah dan bahagia. Meskipun tidak ada secara fisik, teman tersebut tidak hilang, dan komunikasi mungkin masih tetap ada.

4.1.32 Akankah cinta meminta teman itu untuk tetap berada dalam kesulitan hanya agar tetap berada di dekat kita? Dengan cara yang sama, jika mereka yang meninggalkan bumi telah menuju keadaan yang lebih baik, kasih sayang seharusnya menemukan kenyamanan dalam kebahagiaan mereka.

Penghiburan dalam Kesinambungan Kasih Sayang

4.1.33 Salah satu penghiburan termanis adalah mengetahui bahwa orang yang kita cintai belum hancur. Mereka masih hidup, mereka masih mencintai, dan ikatan kita dengan mereka tidak putus.

4.1.34 Pikiran ini melunakkan kesedihan. Ia tidak melarang air mata, namun mengubah keputusasaan menjadi harapan.

Ketahanan Sabar dan Kegembiraan Masa Depan

4.1.35 Penderitaan hidup akan lebih mudah ditanggung jika kita melihatnya berlalu begitu saja. Kehidupan duniawi ibarat kurungan keras yang berakhir dengan kebebasan.

4.1.36 Maka dukacita bagi orang yang meninggal harus dibarengi dengan kesabaran dan kepercayaan. Cinta tidak berakhir di kubur, dan perpisahan hari ini mempersiapkan kebahagiaan di masa depan.

Kekecewaan. Rasa tidak berterima kasih. Kasih Sayang yang Rusak

4.1.37 Kekecewaan yang disebabkan oleh rasa tidak berterima kasih dan putusnya kasih sayang adalah beberapa penderitaan terberat dalam hidup. Namun hal-hal tersebut seharusnya membawa kita pada rasa kasihan, bukan kebencian. Orang yang tidak tahu berterima kasih lebih merugikan dirinya sendiri daripada orang yang dilukainya. Rasa tidak berterima kasih berasal dari keegoisan, dan keegoisan mendatangkan hukumannya sendiri.

4.1.38 Kebaikan yang kita lakukan tidak harus bergantung pada ucapan terima kasih. Jika kebaikan dibalas dengan penghinaan atau kelupaan, itu tetaplah kebaikan. Nilainya tetap sama. Terus berbuat baik setelah disakiti adalah kemenangan moral yang sesungguhnya.

4.1.39 Luka-luka ini bisa menggoda kita untuk menutup hati. Itu akan menjadi kesalahan yang lain. Lebih baik menderita karena cinta daripada menjadi dingin dan egois. Seorang jiwa yang mempertahankan kapasitasnya untuk mencintai, bahkan setelah kesakitan, berada dalam keadaan yang lebih baik daripada seseorang yang menolak semua kasih sayang untuk menghindari disakiti.

4.1.40 Ketika kasih sayang telah diberikan dengan buruk, kita tidak boleh berhenti mencintai. Kita harus menjadi lebih bijaksana dalam menaruh kepercayaan kita. Jika ada orang yang terbukti tidak layak, kesalahannya bukanlah pada kasih sayang yang tulus, melainkan pada mengharapkan dari orang yang tidak sempurna apa yang tidak bisa mereka berikan.

4.1.41 Jadi kita harus merasa kasihan dan bukannya dendam terhadap mereka yang bertindak buruk. Kita harus mengatasi perilaku mereka, bukan menirunya. Manusia diciptakan untuk mencintai dan dicintai, dan salah satu kebahagiaan hidup yang paling murni adalah bertemunya hati dalam simpati sejati. Dalam kasih sayang seperti itu, kita sudah merasakan kebahagiaan yang lebih tinggi, dimana cinta tidak lagi diganggu oleh keegoisan atau rasa sakit.

Serikat Antipati

4.1.42 Ketika dua orang dipersatukan tanpa simpati yang nyata, persatuan tersebut menjadi sumber penderitaan. Yang satu mungkin mencintai sementara yang lain tidak, atau ketertarikan awal mungkin berubah menjadi sikap dingin. Persatuan seperti itu mungkin merupakan cobaan atau penebusan dosa. Orang sering salah mengira ketertarikan yang lewat sebagai cinta yang mendalam, dan ketika kehidupan sehari-hari menghilangkan ilusi, apa yang tampak bertahan lama ternyata hanyalah gairah. Cinta sejati yang abadi adalah milik jiwa, bukan milik tubuh.

Dua Jenis Kasih Sayang

4.1.43 Ada dua jenis kasih sayang: kasih sayang badan dan kasih sayang jiwa.

4.1.44 Yang pertama berasal dari ketertarikan fisik dan tidak stabil. Yang kedua datang dari simpati sejati antara jiwa-jiwa dan lebih dalam serta tahan lama.

4.1.45 Jadi ketika cinta berubah menjadi kebencian, yang dicintai bukanlah jiwa, melainkan yang menyenangkan indera.

Penderitaan dalam Persatuan Tanpa Simpati

4.1.46 Hidup dekat dengan seseorang yang tidak ada simpatinya adalah penderitaan yang berat.

4.1.47 Sebagian besar penderitaan ini disebabkan oleh kesalahan manusia. Orang sering kali bergabung karena kesombongan, ambisi, kepentingan pribadi, atau prasangka sosial, bukan demi keharmonisan sejati. Ketidakbahagiaan yang terjadi selanjutnya adalah akibat yang wajar.

4.1.48 Tuhan tidak menjadikan penderitaan seperti itu sebagai hukum. Dalam banyak kasus, orang menciptakannya untuk diri mereka sendiri.

Korban yang Tidak Bersalah

4.1.49 Dalam hubungan yang tidak bahagia ini, sering kali satu oranglah yang paling menderita dan bukan penyebab masalahnya. Bagi orang tersebut, rasa sakit itu bisa menjadi penebusan atau ujian moral.

4.1.50 Meski begitu, pihak yang menyebabkan ketidakbahagiaan tetap bertanggung jawab. Ketika prasangka kehilangan kekuatannya, dan ketika orang-orang tidak begitu memedulikan harga diri, kedudukan, dan penampilan, maka persatuan yang menyakitkan ini akan semakin berkurang.

Ketakutan akan Kematian

4.1.51 Ketakutan akan kematian adalah hal biasa, meskipun jiwa tetap bertahan dalam tubuh. Sebagian besar ketakutan ini berasal dari gagasan yang salah tentang masa depan. Jika agama dihadirkan terutama sebagai hukuman, maka kematian tampak menakutkan. Jika kematian diyakini mengakhiri segalanya, maka kematian juga terkesan gelap dan mengerikan.

4.1.52 Bagi yang adil dan baik, itu berbeda. Keyakinan akan masa depan dan kepercayaan pada keadilan ilahi memberikan harapan. Jika mereka dengan tulus berusaha untuk hidup dengan baik, mereka dapat menghadapi kematian dengan lebih tenang, melihatnya sebagai sebuah perjalanan dan bukan sebuah akhir.

Keterikatan pada Kehidupan Material

4.1.53 Semakin seseorang terikat pada kehidupan materi, semakin takut akan kematian. Orang yang hidup demi harta benda, kesenangan, ambisi, atau kesuksesan duniawi merasa terikat pada apa yang harus ditinggalkan.

4.1.54 Mereka yang mencari kebahagiaan hanya dalam hal-hal lahiriah hanya mendapat sedikit dukungan ketika hal-hal tersebut lenyap. Oleh karena itu, rasa takut seringkali paling kuat dirasakan oleh mereka yang paling asyik di dunia.

Kedamaian Kehidupan Moral

4.1.55 Mereka yang mengatasi hawa nafsu sudah mengetahui kebahagiaan yang lebih tenang dan abadi. Hati nurani yang bersih, tidak berlebihan, dan kebiasaan berbuat baik memberikan kedamaian batin yang tidak bisa diberikan oleh kesenangan materi.

4.1.56 Kedamaian ini membuat kematian tidak terlalu pahit. jiwa yang tidak terlalu terikat pada keinginan duniawi tidak terlalu mengalami kesulitan dalam meninggalkan tubuh. Kehidupan moral dengan demikian mempersiapkan seseorang untuk keberangkatan yang lebih damai.

Mengapa Nasihat Sederhana Sering Ditolak

4.1.57 Seringkali orang menolak nasihat ini karena tampaknya terlalu sederhana. Mereka menginginkan perdamaian tanpa usaha, pengorbanan, dan pengendalian diri yang diperlukan untuk mendapatkannya.

4.1.58 Kedamaian jiwa tidak datang secara kebetulan. Hal ini berasal dari perlawanan terhadap kecenderungan buruk dan belajar mengatur diri sendiri. Itulah sebabnya nasihat ini masuk akal, meskipun banyak yang tidak ingin mengikutinya.

Ketidakpuasan dengan Kehidupan. Bunuh diri

4.1.59 Kelelahan dalam hidup sering kali disebabkan oleh kemalasan, kurangnya iman, atau kekosongan yang timbul karena kelebihan. Pekerjaan yang bermanfaat, tugas, dan harapan di masa depan yang lebih baik membantu orang menanggung cobaan hidup.

4.1.60 Tidak ada seorang pun yang berhak mengambil nyawanya sendiri. Hidup adalah milik Tuhan, dan bunuh diri merupakan pelanggaran terhadap hukum tersebut. Ketika seseorang bertindak gila atau tanpa kesadaran, tanggung jawabnya berkurang.

4.1.61 Mereka yang bunuh diri untuk menghindari masalah, kekecewaan, atau penderitaan tidak memahami tujuan hidup di dunia. Pencobaan dapat berfungsi sebagai ujian atau penebusan, dan ketekunan yang sabar mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Bunuh diri bukanlah keberanian, tapi mengalah.

4.1.62 Kebanggaan sering kali menjadi bagian darinya. Ada yang lebih memilih mati daripada menghadapi kemiskinan, penghinaan, atau penurunan status sosial. Yang lain menghancurkan diri mereka sendiri untuk menghindari rasa malu karena suatu kesalahan atau untuk menghindari aib keluarga mereka. Motif-motif seperti itu mungkin meringankan rasa bersalahnya, namun tidak menjadikan tindakan itu benar. Gagasan palsu tentang kehormatan tidak dapat mengubah hukum Allah.

4.1.63 Bunuh diri tidak menghapus kesalahan. Ia menambah beban lain dan meninggalkan jiwa dengan beban yang sama. Mereka yang lebih memedulikan pendapat manusia daripada penghakiman Allah tidak mendapat keuntungan apa pun darinya.

4.1.64 Ada yang membayangkan dengan meninggalnya mereka akan lebih cepat mencapai kebahagiaan, atau lebih cepat bisa dipertemukan kembali dengan orang-orang yang dicintainya. Ini adalah ilusi. Bukannya maju, mereka malah menunda kemajuannya dan sering menunda pertemuan kembali yang mereka harapkan.

4.1.65 Yang sangat berbeda adalah memberikan nyawa untuk menyelamatkan orang lain atau untuk melayani sesama dengan cara yang benar-benar tanpa pamrih. Itu bukan bunuh diri, tapi pengorbanan. Nilainya tergantung niatnya.

4.1.66 Ada juga semacam bunuh diri moral dengan menyerahkan diri pada nafsu yang merusak. Ketika seseorang mengetahui suatu kebiasaan merusak kesehatan dan menyebabkan kematian, namun tetap melanjutkannya dengan sukarela, kesalahannya serius.

4.1.67 Sekalipun seseorang sangat menderita atau diperkirakan akan segera meninggal, tetap saja salah jika sengaja memperpendek umurnya. Namun tanggung jawab selalu bergantung pada niat, kebebasan, dan kesadaran. Adat istiadat yang dibentuk oleh ketidaktahuan, paksaan, atau tekanan sosial dinilai berdasarkan hal tersebut.

Konsekuensi Umum Bunuh Diri

4.1.68 Akibat bunuh diri tidak sama pada setiap kasus. Mereka berbeda-beda tergantung motif dan keadaan. Namun ada satu hal yang umum: orang tersebut tidak menemukan kedamaian atau pelarian yang diharapkan.

4.1.69 Hukumannya bisa dimulai segera atau datang belakangan dalam kehidupan duniawi yang baru, sering kali lebih sulit daripada hukuman yang dipersingkat. Kematian yang kejam dan dini juga dapat meninggalkan ikatan yang bermasalah antara roh dan tubuh. roh dapat tetap kebingungan, kadang-kadang percaya bahwa ia masih hidup.

4.1.70 Dalam beberapa kasus, bahkan dampaknya terus dirasakan tubuh setelah kematian, dengan kesedihan dan kengerian, terkadang hingga akhir alami kehidupan yang terputus. Hal ini tidak selalu terjadi, namun hal ini menunjukkan bahwa bunuh diri bukanlah jalan keluar yang sesungguhnya.

4.1.71 Apa yang ditolak tetap harus dihadapi. Yang salah harus diperbaiki cepat atau lambat. Banyak roh-roh mengalami penyesalan yang mendalam ketika mereka melihat bahwa tindakan tersebut tidak mendatangkan ketenangan, melainkan kekecewaan.

4.1.72 Agama, moralitas, dan akal budi mengutuk bunuh diri karena tidak ada seorang pun yang bebas mengakhiri hidup demi menghindari penderitaan. Cobaan duniawi mempunyai tujuan. Keberanian, taubat, kerja bermanfaat, percaya kepada Tuhan, dan kesetiaan dalam menjalankan tugas hidup adalah jalan maju yang sejati.