Skip to main content

3.12 Pertumbuhan Moral

Catatan terjemahan
Bab ini diterjemahkan dengan AI dari edisi sederhana dan mungkin mengandung kesalahan. Mohon laporkan jika ada masalah terjemahan.

Kebajikan dan Keburukan

3.12.1 Kebajikan menunjukkan pergerakan menuju kebaikan.

3.12.2 Ada kebajikan sejati ketika seseorang dengan bebas menolak kecenderungan-kecenderungan yang merugikan. Bentuk tertingginya adalah melepaskan kepentingan pribadi demi kebaikan orang lain, tanpa motif atau keinginan tersembunyi akan imbalan. Pahala terbesar dimiliki oleh amal yang paling tidak mementingkan diri sendiri.

3.12.3 Beberapa tampaknya berbuat baik tanpa perjuangan. Hal ini tidak mengurangi nilai mereka; itu berarti pertarungan batin sebelumnya telah dimenangkan, dan kebaikan sudah menjadi hal yang wajar.

Tanda Ketidaksempurnaan yang Paling Khas

3.12.4 Salah satu tanda paling jelas dari ketidaksempurnaan moral adalah sikap mementingkan diri sendiri.

3.12.5 Seseorang mungkin tampak bermoral dalam banyak hal, namun kepentingan pribadi sering kali mengungkap kebenaran. Keterikatan pada hal-hal materi juga menunjukkan ketidaksempurnaan. Semakin seseorang hidup demi harta benda dan keuntungan duniawi, semakin kurang jelas orang tersebut melihat tujuan hidup yang lebih tinggi. Sikap tidak mementingkan diri sendiri menunjukkan pandangan yang lebih luas.

Tidak mementingkan diri sendiri dan Kearifan

3.12.6 Sikap tidak mementingkan diri sendiri memang berharga, namun harus disertai dengan penilaian yang baik.

3.12.7 Seseorang mungkin memberi secara cuma-cuma namun masih menggunakan sumber daya secara buruk, dengan sedikit manfaat nyata. Orang seperti itu layak mendapat penghargaan karena penyangkalan diri, namun bukan karena kebaikan yang bisa dihasilkan oleh penggunaan yang lebih bijaksana. Kekayaan adalah suatu kepercayaan, dan pemiliknya bertanggung jawab tidak hanya atas penyalahgunaannya, tetapi juga atas kebaikan yang terabaikan.

Berbuat Baik Tanpa Motif Tersembunyi

3.12.8 Kebaikan harusnya dilakukan atas dasar amal, bukan perhitungan.

3.12.9 Jika kemurahan hati hanya merupakan cara untuk mendapatkan pahala, maka kemurahan hati akan kehilangan sebagian besar kemurniannya. Orang yang berbuat baik karena menyukai kebaikan, ingin menyenangkan hati Tuhan, dan ingin meringankan penderitaan, adalah orang yang lebih maju.

3.12.10 Meski begitu, keinginan untuk memperbaiki kondisi masa depan tidaklah salah. Kesalahannya terletak pada memperlakukan amal seperti tawar-menawar. Tidak ada egoisme dalam upaya mengoreksi diri, mengatasi hawa nafsu, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Kemajuan Intelektual dan Pengetahuan Material

3.12.11 Pengetahuan materi bukannya tidak ada gunanya karena kehidupan di dunia ini singkat.

3.12.12 Pembelajaran sains dan praktik dapat bermanfaat bagi orang lain dan dengan demikian menjadi bagian dari kehidupan moral. Mereka juga membantu roh itu sendiri. Pengetahuan yang diperoleh dalam satu kehidupan mempersiapkan roh untuk kemajuan yang lebih cepat di kemudian hari. Tidak ada pengetahuan sejati yang terbuang sia-sia.

Kekayaan, Kesulitan, dan Tanggung Jawab

3.12.13 Kekayaan adalah ujian moral.

3.12.14 Jika dua orang kaya hidup hanya untuk dirinya sendiri, maka orang yang pernah mengenal kemiskinan lebih tercela, karena orang tersebut memahami penderitaan berdasarkan pengalaman. Terus menimbun kekayaan tanpa membantu siapa pun menunjukkan prinsip yang tidak teratur, dan menabung segalanya untuk ahli waris bukanlah alasan untuk melakukan hal tersebut.

Keinginan Akan Kekayaan Agar Dapat Berbuat Baik

3.12.15 Menginginkan kekayaan untuk berbuat baik memang patut dikagumi, namun hanya jika motifnya tulus.

3.12.16 Kepentingan pribadi yang tersembunyi dengan mudah memasuki keinginan seperti itu. Seringkali orang pertama yang ingin diuntungkan adalah diri sendiri. Nilainya bergantung pada seberapa bebasnya dari kesombongan, ambisi, kenyamanan, dan keuntungan pribadi yang terselubung.

Tentang Mempelajari Keburukan Orang Lain

3.12.17 Melihat kesalahan orang lain bisa merugikan atau membantu.

3.12.18 Adalah salah bila dilakukan untuk mengkritik atau mempermalukan. Ini bisa berguna bila membantu seseorang menghindari kesalahan yang sama dalam dirinya. Sebelum menyalahkan orang lain, seseorang harus bertanya apakah ada kesalahan yang sama di dalam dirinya. Respons yang lebih baik adalah koreksi diri.

Mengungkap Penyakit Masyarakat

3.12.19 Tidaklah salah untuk mengungkap kejahatan sosial. Semuanya tergantung niat.

3.12.20 Jika pelanggaran terungkap untuk memperbaikinya, maka pekerjaan tersebut dapat memberikan manfaat. Jika tujuannya adalah skandal atau kesenangan dalam mengungkap korupsi, tindakan tersebut ternoda secara moral. Tanda ketulusan yang paling jelas adalah teladan pribadi.

Moralitas dalam Perkataan dan Moralitas dalam Kehidupan

3.12.21 Prinsip-prinsip indah tidak akan ada nilainya jika tidak dijalani.

3.12.22 Seseorang mungkin mengajarkan kebenaran mulia yang membantu orang lain, namun gagal menerapkannya. Kebaikan yang dihasilkan oleh pengajaran seperti itu memang nyata, namun kontradiksinya serius. Mengetahui kebenaran moral namun tetap menolak untuk menjalaninya adalah kesalahan yang lebih besar daripada ketidaktahuan.

Kesadaran akan Perbuatan Baik Seseorang

3.12.23 Tidaklah salah untuk mengakui kebaikan yang telah dilakukan seseorang.

3.12.24 Sebagaimana seseorang harus menyadari kesalahannya untuk memperbaikinya, ia juga harus melihat ketika kecenderungan jahat telah diatasi. Dengan demikian, seseorang akan merasakan kepuasan yang wajar dalam kemenangan moral.

3.12.25 Bahayanya dimulai ketika kepuasan itu menjadi kesia-siaan. Rasa syukur yang diam-diam memperkuat jiwa, namun kesombongan terhadap kebajikan melemahkannya.

Gairah

3.12.26 Nafsu itu sendiri tidak jahat.

3.12.27 Mereka merupakan bagian dari sifat manusia dan dapat berguna, memberi energi, keberanian, dan kekuatan untuk bertindak.

3.12.28 Mereka menjadi berbahaya jika berlebihan. Jika diatur oleh kemauan, mereka dapat memberikan manfaat; ketika mereka memerintah orang tersebut, mereka menjadi berbahaya. Suatu nafsu tidak lagi baik ketika merugikan diri sendiri atau orang lain, dan ketika seseorang tidak lagi menguasainya.

3.12.29 Maka, kejahatan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berlebihan. Secara spiritual, nafsu yang menarik seseorang menuju sisi kehidupan yang bersifat hewani menjauhkan orang tersebut dari sisi spiritual, sementara gerakan yang meningkatkan jiwa di atas nafsu egois menunjukkan kemajuan menuju kesempurnaan.

Mengatasi Kecenderungan Jahat

3.12.30 Manusia dapat mengatasi kecenderungan jahatnya dengan usahanya sendiri.

3.12.31 Kesulitannya sering kali lebih disebabkan oleh kurangnya kekuatan dibandingkan kurangnya kemauan. Orang-orang mungkin menyebut hasrat mereka sangat menarik namun tetap menikmatinya.

3.12.32 Oleh karena itu perjuangannya adalah melawan keterikatan batin. Mereka yang dengan tulus menahan nafsunya akan belajar bahwa nafsunya lebih dari sekedar dorongan hatinya. Setiap kemenangan adalah kemenangan roh atas materi.

Bantuan Rohani

3.12.33 Tidak ada seorang pun yang dibiarkan sendirian dalam perjuangan ini.

3.12.34 Jika seseorang ikhlas berdoa kepada Tuhan dan meminta bantuan malaikat pelindung, roh-roh yang baik datang membantu. Peran mereka termasuk membantu orang melawan pengaruh berbahaya dan tumbuh lebih kuat dalam kebaikan.

3.12.35 Bantuan mereka tidak menggantikan upaya pribadi. Pertolongan Ilahi dan tekad manusia harus bekerja sama.

Cara Paling Efektif

3.12.36 Cara paling efektif untuk menolak aturan kodrat jasmani adalah penyangkalan diri.

3.12.37 Hal ini tidak berarti menolak kehidupan atau kemampuan alamiah, namun menolak diatur oleh selera, kesombongan, dorongan hati, atau pemanjaan diri. Melaluinya, nafsu tidak dihancurkan tetapi ditertibkan dan diarahkan pada kebaikan.

3.12.38 Dengan cara ini, seseorang tidak lagi diperbudak oleh hal-hal yang berlebihan dan bangkit menuju kehidupan spiritual.

Egoisme

3.12.39 Keegoisan adalah akar dari segala sifat buruk. Jika ia tetap berada di dalam hati, maka pengaruhnya juga akan tetap ada. Siapa pun yang menginginkan kemajuan moral yang nyata harus berusaha menghilangkannya, karena kemajuan tersebut tidak dapat hidup tanpa keadilan, cinta, dan kasih.

3.12.40 Tampaknya sulit untuk dihancurkan karena terikat pada kepentingan pribadi. Namun itu bukanlah bagian dari sifat sejati manusia. Itu milik ketidaksempurnaan moral roh-roh yang hidup di Bumi. Ketika roh-roh maju dan memahami kehidupan spiritual dengan lebih baik, mereka menjadi kurang terikat pada hal-hal materi dan dapat membebaskan diri dari keegoisan.

3.12.41 Peradaban tidak selalu mengurangi keegoisan sekaligus. Kadang-kadang bahkan tampak meningkat. Namun hal ini juga membuat dampak buruknya lebih mudah terlihat. Ketika masyarakat dengan jelas menyadari penderitaan yang diakibatkannya, keadilan dan saling mendukung dapat menggantikan penindasan.

Sarana Menghancurkan Keegoisan

3.12.42 Keegoisan sulit dihilangkan karena hukum, adat istiadat, dan kebiasaan sosial sering kali justru memperkuatnya alih-alih memperbaikinya. Hal ini juga tumbuh melalui ketidakpercayaan. Ketika orang mengharapkan keegoisan dari orang lain, mereka menjadi defensif dan memikirkan keselamatan dan keuntungan diri sendiri terlebih dahulu.

3.12.43 Ia melemah seiring dengan semakin kuatnya kehidupan moral dibandingkan kehidupan material. Ketika orang memahami bahwa hidup tidak terbatas pada kepentingan duniawi saja, diri kehilangan arti penting yang berlebihan. Kemudian kasih dan persaudaraan dapat menjadi dasar hubungan antar pribadi dan bangsa.

3.12.44 Teladan yang baik juga mempunyai kekuatan yang besar. Di saat keegoisan adalah hal biasa, kebajikan sejati membutuhkan pengorbanan. Melupakan diri sendiri demi kebaikan orang lain, apalagi tanpa mencari pujian, adalah salah satu tanda kemajuan moral yang paling jelas.

Pendidikan dan Reformasi Moral

3.12.45 Banyak hal telah dilakukan demi kemajuan umat manusia, namun sifat egois masih menyebar di masyarakat seperti penyakit tersembunyi. Untuk menyembuhkannya, penyebabnya harus dicari di setiap aspek kehidupan sosial, mulai dari keluarga hingga bangsa, baik kaya maupun miskin.

3.12.46 Obat terdalam adalah pendidikan—tetapi bukan pengajaran saja. Pendidikan yang sejati harus membentuk karakter sekaligus kecerdasan. Tidaklah cukup hanya mengisi pikiran dengan pengetahuan; sifat moral juga harus dibimbing.

3.12.47 Pengetahuan saja tidak membuat seseorang menjadi baik. Banyak pengaruh buruk yang mengelilingi anak-anak, dan ini membantu menjelaskan gangguan moral di kemudian hari. Bahkan sifat-sifat yang sulit pun sering kali akan membaik jika mereka dilatih dengan benar.

Keegoisan dan Kebahagiaan Manusia

3.12.48 Manusia menginginkan kebahagiaan dan berusaha menghindari penderitaan. Ketika mereka memahami bahwa keegoisan adalah salah satu penyebab kesengsaraan, mereka akan melihatnya sebagai musuh bagi kesejahteraan mereka sendiri.

3.12.49 Keegoisan menimbulkan kesombongan, ambisi, keserakahan, iri hati, kebencian, dan iri hati. Hal ini meracuni kehidupan sosial, menghancurkan kepercayaan, dan mengubah persahabatan menjadi persaingan.

3.12.50 Jadi keegoisan bukan hanya kesalahan moral. Hal ini juga bertentangan dengan kebahagiaan dan keamanan. Ini adalah sumber dari segala keburukan, sebagaimana amal adalah sumber dari segala kebajikan. Menghancurkan yang pertama dan memperkuat yang kedua harus menjadi tujuan dari setiap upaya yang tulus.

Ciri-ciri Orang yang Bermoral

3.12.51 Kemajuan nyata seseorang terlihat dari tingkah lakunya, bukan dari perkataannya.

3.12.52 Kita mengenali orang yang benar-benar bermoral melalui kehidupan yang dipandu oleh hukum Tuhan. Hal ini kurang terlihat dalam keyakinan, perkataan, atau agama lahiriah dibandingkan dalam tindakan sehari-hari. Orang seperti itu mempraktikkan keadilan, cinta, dan amal, serta memeriksa hati nuraninya sendiri dengan tulus.

3.12.53 Mereka bertanya pada diri sendiri apakah mereka telah melakukan kejahatan, gagal melakukan kebaikan yang mereka bisa, atau memperlakukan orang lain dengan cara yang mereka sendiri tolak. Mereka berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan. Mereka mengutamakan keadilan di atas kepentingan pribadi, dan kebaikan mereka tulus.

3.12.54 Mereka berperikemanusiaan dan baik terhadap semua orang, memandang semua orang sebagai saudara dan saudari, apa pun ras atau keyakinannya. Jika mereka mempunyai kekayaan atau kekuasaan, mereka menggunakannya sebagai sesuatu yang dipercayakan kepada mereka demi kebaikan orang lain. Jika orang lain bergantung pada mereka, mereka lemah lembut dan tidak menggunakan wewenang untuk menyakiti, mempermalukan, atau menindas.

3.12.55 Mereka sabar menghadapi kelemahan orang lain karena mengingat kelemahannya sendiri. Mereka tidak membalas dendam, tetapi memaafkan luka dan lebih mengingat manfaat daripada pelanggaran. Mereka menghormati hak orang lain sebagaimana mereka ingin hak mereka sendiri dihormati.

3.12.56 Karakter moral mereka tampak dalam seluruh aspek kehidupan melalui keadilan, kerendahan hati, belas kasihan, dan kasih amal.

Pengetahuan Diri

3.12.57 Cara paling pasti untuk menjadi lebih baik dalam hidup ini dan melawan kejahatan adalah dengan mengenal diri sendiri. Aturannya sederhana, tetapi tidak mengikutinya. Dibutuhkan introspeksi diri yang tulus dan keberanian untuk memandang diri sendiri tanpa alasan.

3.12.58 Kebiasaan yang baik adalah meninjau ulang hari Anda setiap malam sebelum tidur. Pertanyakan hati nurani Anda. Ingat kembali apa yang telah Anda lakukan, apa yang gagal Anda lakukan, dan apa yang roh menggerakkan Anda. Tanyakan apakah Anda mengabaikan tugas apa pun, menyakiti orang lain, atau membiarkan sifat mementingkan diri bersembunyi di balik penampilan terhormat.

3.12.59 Jika hal ini dilakukan dengan jujur, dan disertai doa memohon pertolongan Tuhan serta dukungan malaikat pelindung Anda, maka hal ini akan menjadi sarana kemajuan moral yang kuat.

3.12.60 Pertanyaan-pertanyaan tertentu sangat berguna: Apa tujuan saya melakukan tindakan ini? Apakah saya melakukan sesuatu yang akan saya salahkan pada orang lain? Apakah saya melakukan sesuatu yang membuat saya malu untuk mengakuinya secara terbuka? Jika saya memasuki dunia spiritual sekarang, di mana tidak ada yang tersembunyi, apa yang membuat saya malu?

3.12.61 Pemeriksaan ini dapat dilakukan dalam tiga bagian: apa yang dilakukan terhadap Tuhan, apa yang dilakukan terhadap sesama, dan apa yang dilakukan terhadap diri sendiri. Dari situ muncullah kedamaian hati nurani atau kebutuhan nyata untuk memperbaiki kesalahan.

3.12.62 Pengetahuan diri adalah kunci kemajuan, namun sulit untuk menilai diri sendiri secara adil. Kesombongan menyembunyikan kesalahan kita. Salah satu tes yang berguna adalah menanyakan bagaimana Anda akan menilai tindakan yang sama jika orang lain melakukannya. Jika Anda ingin menyalahkan mereka, Anda tidak boleh memaafkannya pada diri Anda sendiri.

3.12.63 Adalah bijaksana juga untuk mendengarkan apa yang orang lain katakan tentang kita, terutama bila kritik yang dilontarkan tidak menyanjung. Bahkan musuh pun bisa membantu, karena musuh biasanya tidak menyanjung.

3.12.64 Siapapun yang benar-benar ingin maju harus menyelidiki hati nuraninya dan membuang kecenderungan-kecenderungan buruk seperti seseorang mencabut rumput liar dari kebun. Kita harus mempertimbangkan keuntungan dan kerugian moral setiap hari dengan hati-hati seperti halnya hal-hal lainnya. Jika kebaikan lebih besar daripada kejahatan, hati nurani bisa tenang.

3.12.65 Pertanyaan yang kita ajukan pada diri kita sendiri harus jelas, tidak samar-samar. Tanpa itu, pemeriksaan diri dengan mudah menjadi penipuan diri sendiri. Beberapa menit setiap hari yang dihabiskan untuk pekerjaan ini tidak pernah hilang. Banyak kesalahan yang tidak terlihat hanya karena tidak pernah diperiksa dengan cermat.